Sabtu, 26 September 2020

 


 PARADIGMA BARU JURU DAKWAH

 Oleh : Drs. H. Awaluddin Cuncun, SH

                               Runner Up Pengawas PAI berprestasi Nasional 2013                             

Pendahuluan

Dakwah adalah merupakan usaha-usaha sadar yang dilakukan oleh seseorang dengan penuh kesadaran dan kesengajaan, dengan menggunakan bermacam methoda dan medya yang diperbolehkan oleh agama, untuk mencapai tujuan dan maksud tertentu. Usaha-usaha yang dilakukan yaitu mengajak manusia untuk beriman dan mentaati perintah Allah SWT, atau melakukan syariat Islam yang beroreantasi kepada        “ Amar makruf dan nahi mungkar “  menyeru kepada yang baik dan mencega dari yang mungkar/keji

Dakwah dalam konteks penyiaran islam

                Kata dakwah dalam konteks penyiaran agama islam dalam masa kini kelihatanya telah mendapat arti dan nuansa-nuansa baru melebihi makna konvensional yang kita kenal selama ini, hal ini secara substansi dapat kita lihat dari dua kurun waktu, jika dahoeloe arti  dakwah lebih dikenal dalam artian sempit yang identik dengan tabligh, menyampaikan, sementara tabligh itu sesungguh hanya salah satu cara atau metoda menyampaikan pesan dari tujuan dakwah. Nah sekarang arti dakwah sudah menjadi begitu luas dan begitu terkait dengan hal-hal lain dalam berbagai segi kegiatan kehidupan, karena itu pula munculah istilah-istilah baru, yang sekaligus dapat menggambarkan luas cakupan dari kegiatan dakwah tersebut, di samping dakwah bilisan yang beroreantasi tabligh secara konvensional, kitapun lalu mengenal dakwah bil hal untuk hampir semua kegiatan di berbagai bidang kehidupan di zaman globalisasi, informasi serta sains dan tekhnologi sekarang ini, maka muncul pula “dakwah bilkalam” di samping dakwah melalui medya social elektronik audio visual dan medya cetak lainnya, atau lebih popular saat ini dakwah melalui dunia maya dan jauh lebih cepat dan mampu menembus wilayah terisolir sekalipun.

                Pada sisi lain dakwah juga digunakan untuk menyukseskan program pembangunan, manakala ada hal-hal yang tidak tembus dengan cara informasi  dan propaganda biasa, lalu dibantu dengan jurus dakwah. Ulama-ulama, da’i dan mubaligh lalu dikerahkan, seperti upaya dalam mengurangi tekanan kependudukan, khususnya melalui program keluarga berencana misalnya, meningkatkan kesadaran akan kebersihan lingkungan, atau  K-3, perbaikan gizi dan kesehatan, ketertiban lalu lintas, peningkatan produktifitas dan etos kerja, pengentasan kemiskinan, pembasmian kuropsi, pemberantasan peredaran gelap Narkoba, dan  bermacam bentuk pekat ( penyakit masyarakat) dan lain-lain. Dakwah selalu dilakukan melalui jalur dan bahasa agama dalam konteks ini peranan ulama, da’I dan mubaligh terasa amat diperlukan.

                Hal ini tidak lain karena dalam kehidupan keagamaan sendiri kita mendapat sentuhan- sentuhan baru dari dunia yan makin maju dan semakin menyatu karena perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi. Kita juga melihat kehidupan keagamaan sendiri merupakan bagian dari kehidupan yang lebih luas. Walaupun ajaran islam bersifat universal dan multi kompleks yang mencakup semua sisi kehidupan, namun dahulu terasa betul bahwa kehidupan keagamaan hanya sebatas kegiatan ibadah rutinitas, ma’rifatullah yang beroreantasi akhirat semata dan sedikit sekali yang mencakup kegiatan mu’amala-mu’annas yang menyangkut kehidupan dunia ini. Dahoeloe masyarakat kita cenderung berfikir adanya dekotomi dan terbentangnya garis demarkasi antara dunia dan akhirat. Sedangkan sekarang sudah lebih bercorak integral-holistic ( terpadu), masyarakat makin menyadari bahwa kehiduypan dunia dan akhirat sangat berkaitan, dahoeloe, artinya masih sejangkauan generasi tua yang sebagian masih hidup sampai sekarang, corak hubungan yang kita kenal ketika itu hanyalah sebatas hubungan primer tatap muka, pada masyarakat yang bercorak plural dan agraris, dengan tingkat pendidikan formal yang rata-rata menimal. Sebagian besar dari anggota masyarakat waktu itu buta huruf, walau tidak buta huruf alqur’an. Pada waktu itu yang menonjol memang dakwah dalam arti tabligh, dengan penyampaian tatap muka secara langsung, dalam suasana yang relative akrab dan in formal, tanpa adanya alat-alat pembantu sebagai sarana penunjang, seperti mik audio visual dan hampir selalu di mesjid atau di surau. Dalam konteks itu para mubaligh selalu dinilai dari segi kehebatan dan kebolehannya dalam retorika berpidato, disamping kedalaman isi dan kandungan dakwahnya.

                 Dalam kondisi seperti ini seorang mubaligh tidak terlalu sulit dalam menyampaikan dakwahnya, dapat dikatakan mudah untuk menyampaikan dakwah islamiyah kepada umat, karena masyarakat tidak terlalu hiterogen, mereka umumnya mempunyai jenjang pendidikan yang hampir rata. Disamaping mereka mengganggap bahwa mendengar pengajian di surau  bukan hanya merupakan kebutuhan rohania saja, akan tetapi juga merupakan Relaksasi, sehabis keberja keras di sawah dan di ladang pada siang harinya, apa lagi yang akan menghibur kecuali mendengarkan pengajian di mesjid dan di surau pada malam hari. Apa lagi waktu itu belum ada rintangan lain yang mengganggu seperti, TV, HP, video para bola  internet dan lain sebagainya yang akan merintangan mereka. Juga tidak ada bahan bacaan berupa koran, majalah dan sebagainya. Karena itu banyak diantara mereka yang telah sekolah, kembali menjadi buta huruf, karena tidak pernah dibiasakan membaca, hingga sekolah dan pendidikan formal tidak fungsional dalam kehidupan mereka.

Integritas Mubaligh

                Berbeda penomena yang dihadapi oleh para mubaligh, da’i dan juru dakwah pada masa dahoeloe dengan penomena yang dihadapi oleh juru dakwah pada masa sekarang, di masa dahulu menyampaikan dakwah  pada dasarnya tidak mendapat hambatan dan rintangan yang berarti, kecuali hanya berupa sarana transportasi untuk pergi dari satu mesjid ke mesjid lain, dari satu kampung ke kampung lain. Namun pesan agama yang dibawa saat itu terasa cepat meresap dan mendapat tempat di hati ummat, sehingga hal ini memilki arti dan makna tersendiri di hati para mubaligh. Semuanya itu adalah merupakan suka duka yang dihadapi para mubaligh, da’I dan juru dakwah masa dahoeloe.

                Lain halnya dengan kondisi masa kini selera masyarakat zaman sekarang jauh berbeda, walaupun dalam hal transportasi tidak lagi terkendala sama sekali. Karena sebagian besar para penyambung pesan Rasullah ini telah mempunyai kendaraan pribadi, baik sepeda motor, bahkan tidak jarang yang telah memiliki mobil pribadi, mungkin saja hanya satu atau dua orang mubaligh, da’I yang belum memiliki kendaraan, walaupun tidak mempunyai kendaraan pribadi  namun transportasi umum cukup banyak tersedia, kemana dan kapan saja. Akan tetapi penomena yang ditemukan hari ini adalah, bagaimana menyampaikan dakwah yang efektif dan efisien. Sebab masyarakat yang di hadapi sangat hiterigen, jenjang pendidikan juga tidak sama, struktur sosial juga berbeda, di samping faktor ekonomi dan nuansa berfikir masyarakat cendrung  bisnis, sehingga populer istilah “time is money” cara  pandang masyarakat adalah, waktu itu lebih bernilai dari pada uang, banyak hal yang dapat diukur dengan materi atau uang.

Kesimpulan

                Berangkat dari kondisi yang seperti itu, dapat dikatakan bahwa seorang mubaligh, da’I dan juru dakwah masa kini, harus mampu mengintegrasikan diri dengan segala  bentuk kemajuan yang ada, hanya saja jangan sampai terjadi “tukang pancing dilarikan ikan” para mubaligh masa kini harus mampu membaca selera para jama’ah (audience) atau sasaran maksudnya dalam bedakwah  seorang da’I hendaknya memperhatikan siapa sasarannya; apakah orang berpendidikan atau tidak, apakah masyarakat umum atau pejabat, apakah siswa atau kepala sekolah, apakah siswa SD atau siswa SMA, dan sebagainya. Dengan mengetahui karakteristik jama’ah maka sang da’i pun bisa menyesuaikan gaya dan “irama” dakwah menurut karakteristik jama’ah. Berbicara dengan siswa SD tentu berbeda dengan siswa SMA misalnya, atau mahasiswa, menghadapi masyarakat cras roots tentu berbeda pula dengan menghadapi masyarakat akademis dan modern. Mungkin saja pada suatu tempat seorang mubaligh akan tampil seperti pakiah di zaman saisuak, tapi pada tempat tertentu beliau juga dituntut untuk tampil pakai dasi bagaikan direktur sebuah perusahan ternama. sehingga dengan mengetahui siapa audience (jama’ah) seorang da’i atau buya, atau panggilan lain  akan sukses menyampaikan dakwah islamiyah, amin.

               

BIO DATA SINGKAT PENULIS :

Nama                    : Drs. H. Awaluddin Cuncun Dt Gindo Tan Omeh, SH                                             

Jabatan                 : Pengawas Pendidikan Agama Islam Keca

Alamat Kantor   : Kantor Kem. Agama Kab Lima Puluh Kotamatan  Mungka

Alamat rumah   : Jln Gatot Subroto No 41 Telp (0752) 95940 Kel Tanjung Pauh Payakumbuh Barat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar