PARADIGMA BARU JURU DAKWAH
Oleh : Drs. H. Awaluddin Cuncun, SH
Runner Up Pengawas PAI berprestasi Nasional 2013
Pendahuluan
Dakwah adalah merupakan usaha-usaha sadar yang dilakukan oleh seseorang dengan penuh kesadaran dan kesengajaan, dengan menggunakan bermacam methoda dan medya yang diperbolehkan oleh agama, untuk mencapai tujuan dan maksud tertentu. Usaha-usaha yang dilakukan yaitu mengajak manusia untuk beriman dan mentaati perintah Allah SWT, atau melakukan syariat Islam yang beroreantasi kepada “ Amar makruf dan nahi mungkar “ menyeru kepada yang baik dan mencega dari yang mungkar/keji
Dakwah dalam konteks penyiaran islam
Kata dakwah dalam konteks
penyiaran agama islam dalam masa kini kelihatanya telah mendapat arti dan nuansa-nuansa
baru melebihi makna konvensional yang kita kenal selama ini, hal ini secara
substansi dapat kita lihat dari dua kurun waktu, jika dahoeloe arti dakwah lebih dikenal dalam artian sempit yang
identik dengan tabligh, menyampaikan, sementara tabligh itu sesungguh hanya
salah satu cara atau metoda menyampaikan pesan dari tujuan dakwah. Nah sekarang
arti dakwah sudah menjadi begitu luas dan begitu terkait dengan hal-hal lain
dalam berbagai segi kegiatan kehidupan, karena itu pula munculah istilah-istilah
baru, yang sekaligus dapat menggambarkan luas cakupan dari kegiatan dakwah
tersebut, di samping dakwah bilisan yang beroreantasi tabligh secara
konvensional, kitapun lalu mengenal dakwah bil hal untuk hampir semua kegiatan
di berbagai bidang kehidupan di zaman globalisasi, informasi serta sains dan
tekhnologi sekarang ini, maka muncul pula “dakwah bilkalam” di samping dakwah
melalui medya social elektronik audio visual dan medya cetak lainnya, atau
lebih popular saat ini dakwah melalui dunia maya dan jauh lebih cepat dan mampu
menembus wilayah terisolir sekalipun.
Pada sisi lain dakwah juga
digunakan untuk menyukseskan program pembangunan, manakala ada hal-hal yang
tidak tembus dengan cara informasi dan
propaganda biasa, lalu dibantu dengan jurus dakwah. Ulama-ulama, da’i dan
mubaligh lalu dikerahkan, seperti upaya dalam mengurangi tekanan kependudukan,
khususnya melalui program keluarga berencana misalnya, meningkatkan kesadaran
akan kebersihan lingkungan, atau K-3,
perbaikan gizi dan kesehatan, ketertiban lalu lintas, peningkatan produktifitas
dan etos kerja, pengentasan kemiskinan, pembasmian kuropsi, pemberantasan
peredaran gelap Narkoba, dan bermacam
bentuk pekat ( penyakit masyarakat) dan lain-lain. Dakwah selalu dilakukan
melalui jalur dan bahasa agama dalam konteks ini peranan ulama, da’I dan
mubaligh terasa amat diperlukan.
Hal ini tidak lain karena dalam
kehidupan keagamaan sendiri kita mendapat sentuhan- sentuhan baru dari dunia
yan makin maju dan semakin menyatu karena perkembangan ilmu pengetahuan dan
tekhnologi. Kita juga melihat kehidupan keagamaan sendiri merupakan bagian dari
kehidupan yang lebih luas. Walaupun ajaran islam bersifat universal dan multi
kompleks yang mencakup semua sisi kehidupan, namun dahulu terasa betul bahwa
kehidupan keagamaan hanya sebatas kegiatan ibadah rutinitas, ma’rifatullah yang
beroreantasi akhirat semata dan sedikit sekali yang mencakup kegiatan
mu’amala-mu’annas yang menyangkut kehidupan dunia ini. Dahoeloe masyarakat kita
cenderung berfikir adanya dekotomi dan terbentangnya garis demarkasi antara
dunia dan akhirat. Sedangkan sekarang sudah lebih bercorak integral-holistic (
terpadu), masyarakat makin menyadari bahwa kehiduypan dunia dan akhirat sangat
berkaitan, dahoeloe, artinya masih sejangkauan generasi tua yang sebagian masih
hidup sampai sekarang, corak hubungan yang kita kenal ketika itu hanyalah
sebatas hubungan primer tatap muka, pada masyarakat yang bercorak plural dan
agraris, dengan tingkat pendidikan formal yang rata-rata menimal. Sebagian
besar dari anggota masyarakat waktu itu buta huruf, walau tidak buta huruf
alqur’an. Pada waktu itu yang menonjol memang dakwah dalam arti tabligh, dengan
penyampaian tatap muka secara langsung, dalam suasana yang relative akrab dan
in formal, tanpa adanya alat-alat pembantu sebagai sarana penunjang, seperti
mik audio visual dan hampir selalu di mesjid atau di surau. Dalam konteks itu
para mubaligh selalu dinilai dari segi kehebatan dan kebolehannya dalam
retorika berpidato, disamping kedalaman isi dan kandungan dakwahnya.
Dalam kondisi seperti ini seorang mubaligh tidak terlalu sulit dalam menyampaikan dakwahnya, dapat dikatakan mudah untuk menyampaikan dakwah islamiyah kepada umat, karena masyarakat tidak terlalu hiterogen, mereka umumnya mempunyai jenjang pendidikan yang hampir rata. Disamaping mereka mengganggap bahwa mendengar pengajian di surau bukan hanya merupakan kebutuhan rohania saja, akan tetapi juga merupakan Relaksasi, sehabis keberja keras di sawah dan di ladang pada siang harinya, apa lagi yang akan menghibur kecuali mendengarkan pengajian di mesjid dan di surau pada malam hari. Apa lagi waktu itu belum ada rintangan lain yang mengganggu seperti, TV, HP, video para bola internet dan lain sebagainya yang akan merintangan mereka. Juga tidak ada bahan bacaan berupa koran, majalah dan sebagainya. Karena itu banyak diantara mereka yang telah sekolah, kembali menjadi buta huruf, karena tidak pernah dibiasakan membaca, hingga sekolah dan pendidikan formal tidak fungsional dalam kehidupan mereka.
Integritas Mubaligh
Berbeda penomena yang dihadapi
oleh para mubaligh, da’i dan juru dakwah pada masa dahoeloe dengan penomena yang
dihadapi oleh juru dakwah pada masa sekarang, di masa dahulu menyampaikan
dakwah pada dasarnya tidak mendapat
hambatan dan rintangan yang berarti, kecuali hanya berupa sarana transportasi
untuk pergi dari satu mesjid ke mesjid lain, dari satu kampung ke kampung lain.
Namun pesan agama yang dibawa saat itu terasa cepat meresap dan mendapat tempat
di hati ummat, sehingga hal ini memilki arti dan makna tersendiri di hati para
mubaligh. Semuanya itu adalah merupakan suka duka yang dihadapi para mubaligh,
da’I dan juru dakwah masa dahoeloe.
Lain halnya dengan kondisi masa kini selera masyarakat zaman sekarang jauh berbeda, walaupun dalam hal transportasi tidak lagi terkendala sama sekali. Karena sebagian besar para penyambung pesan Rasullah ini telah mempunyai kendaraan pribadi, baik sepeda motor, bahkan tidak jarang yang telah memiliki mobil pribadi, mungkin saja hanya satu atau dua orang mubaligh, da’I yang belum memiliki kendaraan, walaupun tidak mempunyai kendaraan pribadi namun transportasi umum cukup banyak tersedia, kemana dan kapan saja. Akan tetapi penomena yang ditemukan hari ini adalah, bagaimana menyampaikan dakwah yang efektif dan efisien. Sebab masyarakat yang di hadapi sangat hiterigen, jenjang pendidikan juga tidak sama, struktur sosial juga berbeda, di samping faktor ekonomi dan nuansa berfikir masyarakat cendrung bisnis, sehingga populer istilah “time is money” cara pandang masyarakat adalah, waktu itu lebih bernilai dari pada uang, banyak hal yang dapat diukur dengan materi atau uang.
Kesimpulan
Berangkat dari kondisi yang
seperti itu, dapat dikatakan bahwa seorang mubaligh, da’I dan juru dakwah masa
kini, harus mampu mengintegrasikan diri dengan segala bentuk kemajuan yang ada, hanya saja jangan
sampai terjadi “tukang pancing dilarikan ikan” para mubaligh masa kini harus
mampu membaca selera para jama’ah (audience) atau sasaran maksudnya dalam bedakwah seorang da’I hendaknya memperhatikan siapa
sasarannya; apakah orang berpendidikan atau tidak, apakah masyarakat umum atau
pejabat, apakah siswa atau kepala sekolah, apakah siswa SD atau siswa SMA, dan
sebagainya. Dengan mengetahui karakteristik jama’ah maka sang da’i pun bisa
menyesuaikan gaya dan “irama” dakwah menurut karakteristik jama’ah. Berbicara
dengan siswa SD tentu berbeda dengan siswa SMA misalnya, atau mahasiswa, menghadapi masyarakat cras roots tentu
berbeda pula dengan menghadapi masyarakat akademis dan modern. Mungkin
saja pada suatu tempat seorang mubaligh akan tampil seperti pakiah di zaman
saisuak, tapi pada tempat tertentu beliau juga dituntut untuk tampil pakai dasi
bagaikan direktur sebuah perusahan ternama. sehingga dengan mengetahui siapa audience (jama’ah)
seorang da’i atau buya, atau panggilan lain akan sukses menyampaikan dakwah islamiyah,
amin.
BIO DATA SINGKAT PENULIS :
Nama :
Drs. H. Awaluddin Cuncun Dt Gindo Tan Omeh, SH
Jabatan : Pengawas Pendidikan Agama Islam Keca
Alamat Kantor : Kantor Kem. Agama Kab Lima Puluh Kotamatan Mungka
Alamat rumah : Jln Gatot Subroto No 41 Telp
(0752) 95940 Kel Tanjung Pauh Payakumbuh Barat

Tidak ada komentar:
Posting Komentar